Entah apa yang membuatnya menjadi pelangi
Seingatku, dulu dia datang sebagai bentuk yang meresap
Bentuk yang lebih sederhana dari sebuah kata seperti “Nyawa”
Sebuah bentuk yang begitu sangat ingin ku jaga, tentunya.
Banyak yang harus dikorbankan, hanya karena memilihnya
Banyak resiko yang harus diterima, hanya untuk menjaganya
Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika,
Banyak..
Banyak..
Dan inginku,
Bukan sebuah bentuk seperti Matahari, Bulan, atau sebagainya
Entahlah, saat itu memang aku merasakan sebentuk cahaya
Sekali lagi, ku tak pernah ingin menyebutnya ‘Matahari’.
Dengan berat hati ku harus menyebutnya Matahari..
Karena suatu ketika, Dia berkata..
“kau bumi ku, kau akan selalu ku sinari sepanjang hidup ku”
Seakan tahu apa yang ku pikir,
Dia kembali berkata,
“Dan, jika gelapmu datang. Percayalah, Bulan itu wajah ku dan Bintang itu wujud dari seluruh tangan dan raga ku yang tersebar untuk memeluk mu di kala gelap. Lihat aku, rasakan pelukan itu, lupakan langit hitam itu, disana ada aku, dan AKAN SELALU ADA AKU…”
Bodohnya, aku percaya…
Di kala senyumku hampir melebar
Langitpun menghitam, Matahari perlahan menghilang
Aku berduka, karena Matahari pergi tidak pada waktunya
Tiba-tiba
Turunlah hujan yang tidak di harapkan
Hujan, tak pernah masuk dalam bait rencana yang ku inginkan
Dan aku, menunggu sampai langit terang
Dengan airmata yang mengalir tenang..
Langit membuka pintunya,
Lalu, Matahari keluar dengan maafnya..
Bahkan Matahari berterimakasih karena aku telah menunggunya.
Seakan bersungguh-sungguh, Matahari kembali berkata.
“Hatiku tak pernah salah, dirimu berlian yang berlapis emas, hanya aku yang tahu kilau berlian itu, karena kau milik-ku dan aku bersumpah untuk semua itu”
Melihatku tak berkata, Matahari kembali bicara…
“Takkan ku biarkan mereka melihat berlian itu, ku takut mereka ingin memilikinya, aku milik-mu dan aku bersumpah untuk semua itu, kini berjanjilah kau hanya milik-ku…”
Saat itu, ku telan isak tangis dalam,
Yang ku inginkan hanyalah perubahan,
Dan bodohnya saat itu, aku bersedia ucapkan…
Bahwa, “aku milik-nya”.
Entah apa pula yang membuat hujan turun,
Yang ku tahu, Hujan itu nyaris melumpuhkan seluruh harapan dan kebahagiaan ku
Kembali ku paku senyum ku yang pernah patah
Kembali ku balut isak tangis,
Kembali ku timang hatiku yang nyaris terlempar bengis.
Ya benar,
Dia memberiku cahaya lagi,
Dia mulai melukiskan sesuatu yang lebih indah lagi,
Dan dia, meletakkan lukisan yang indah itu, “lebih dalam” lagi..
Dia menjadi seperti apa yang Ia katakan..
Dan sepertinya ia akan menepati, apa yang telah ia janjikan.
Dan bodohnya, aku percaya..
Disaat dia menceriakanku dengan cahaya
Tiba-tiba, Ia manjadi pelangi..
Dan berkata, “Pelangi ku ini, hanya untuk menambahkan warna di garis senyum mu, sebagai hadiah karena kau telah menunggu ku disaat hujan memejamkan mata ku…”
Dan bodohnya, aku percaya..
Entah kenapa, Pelangi perlahan memudar
Ku lupa,
Bahwa Pelangi dapat menghilang sepeninggal Senja
Ku lupa,
Bahwa Pelangi selalu datang - pergi dan jarang kembali
Seperti yang ku duga, Pelangi pun pergi
Seperti tak tahu apa yang harus ku perbuat
Dan seperti tak tahu lagi apa yang harus ku cari
Dengan bodohnya,
Saat itu ku menunggunya kembali.
Hanya satu hal yang membuatku kuat, ialah..
Matahari pernah berjanji,
Bahwa Ia akan menjadi Bulan dan Bintang
Bintang-bintang yang siap memelukku disaat gelap, dan terang menghilang.
Ku menunggu Pelangi berubah menjadi Bulan dan Bintang lagi,
Ku ingin Ia menepati janji..
Waktu berjalan lambat dan menggelap..
Aku mulai merasa di bodohi ..
Ya, dia mengingkari..
Nyaris aku merasa, bahwa aku tak berarti.
Ya, dia mengingkari..
Dia lupa arah dan tujuan, disaat ia dulu sungguh inginkan.
Dia lupa susah payahnya, upaya yang Ia teteskan untuk sebuah maaf atas kesalahan.
Dia lupa betapa beratnya, tumbuhkan kepercayaan..
Dia lupa ribuan airmata yang ku teteskan
Dia benar-benar lupa..
Usaha ku ,
Usaha nya.
Dan bodohnya, aku telah merekam semuanya..
Andai saja Pelangi datang lagi, atau..
Andai saja Matahari yang menjadi Pelangi itu ingin berubah ..
menjadi Bulan-Bintang atau ‘apapun’ lagi.
Aku bersedia menerimanya kembali, pikirku.
Dan saat itu, aku masih bertahan pada bodohku..
Karena saat itu, kepala ku hening tanpa ingin.
Karena saat itu, sepertinya hanya dia yang Hati ku ingin.
Karena saat itu, aku belum mempersiapkan diri untuk bersedih.
Karena saat itu, dia pergi disaat ku hampir sembuhkan perih.
Andai saja dia kembali,
Waktu yang terbuang berganti senyum yang terang
Senyum yang ‘seperti terbangkitkan’, Pasti.
Tapi Senja datang..
Dia membawa pergi Pelangi,
Pelangi yang ku sayangi..
Pelangi yang membodohi ku lagi dan lagi..
Kepalaku bicara :
Tak ada satu pun pita di Hati yang membuatku ingin bertahan..
Logika ku mengucap :
Apa yang bisa ku harapkan dari Matahari, Pelangi, atau Bulan Bintang..
Karena sehebat apapun mereka,
Mereka takkan bisa membahagiakanku dengan cahaya dan kata-kata, saja.
Mereka takkan bisa membahagiakanku dengan pelukan nyata
Karena kita, berada ditempat yang jauh berbeda.
Dan akhirnya,
Ku tersenyum pada Senja
Ku ikhlaskan apapun rekaman yang pernah menghiasi mata dan telinga.
Hari tak mungkin menungguku menyelesaikan luka
Bahkan, Hari tak mungkin membantuku mengobati-nya.
Tapi aku yakin, dengan berjalannya hari.. aku akan lupa.
Dulu aku pernah berpikir,
“Hanya dia yang mampu sembuhkan semua luka..” , sepertinya.
“Hanya dengan dia, Hati ku akan membaik”, sepertinya.
Melupakannya,
Membencinya,
Setengah mati mengobati luka yang di berinya.
“Untuk apa aku bersusah payah melakukan nya ?”, pikirku lagi.
*sambil tersenyum ku katakan.
Aku punya Tuhan yang Maha Luar Biasa Baik.
Dan Tuhan ku akan menggantikan segalanya, dengan segala-segala yang lebih baik.
Dan aku telah menanamkan semua itu, di hati ku baik-baik :)
kucoba tenangkan hati, dengan berdiam.
Ya, meskipun sesekali air bening mengalir di kedua lipatan mata.
Tapi saat itu,
Yang aku tahu, hatiku telah mengikhlaskan
Yang aku tahu, aku hidup karena Tuhan berikan kesempatan
Yang aku tahu, aku berdiri sampai hari ini karena aku “di Perjalankan”…
Ya saat itu, hanya kata-kata itu yang mampu menguatkan.
Satu hal terpikir,
Tak ada yang ku punya di dunia ini, memang.
Dari nafasku yang pertama hingga sekarang, Semuanya berupa pemberian..
Semua kepunyaan-Nya..
Lalu mengapa Pelangi pernah bersumpah, bahwa “Hati nya milik ku ??”
TUHAN SAJA YANG MENCIPTAKANNYA, TIDAK PERNAH BERKATA BEGITU.....!
Oleh karena itu, ku buat kepergian nya abadi dari hati
Karena ku sudah memahami, semua hal yang membodohi ku disini.
Telah ku hapus tetesan demi tetesan, sembari mengecup luka terdalam berharap terobati.
Sambil menyakini bahwa,
Bukan aku , tapi Tuhan lah yang mengusir Pelangi dengan caranya sendiri
Ku ikhlaskan hati dan tak perlu ada yang disesali
Dan tak perlu ku menjauh disaat ia kembali
Karena ku yakin, dan sangat yakin sekali…
Bahwa dia, sudah tidak ada lagi disini,
Dihati.
Ku tak ingin menjalani hari yang ber-Matahari
Karena bisa saja hujan menghampiriku nanti
Ku tak ingin, Pelangi datang membahagiakan ku lagi,
Karena ku tahu, dia pasti akan meninggalkan ku sendiri.
Ku tak mau Bulan dan Bintang, menghiasi malam yang menggelapi
Karena ku tahu, apapun yang terjadi takkan ada arti jika hati ini dibodohi.
Dan saat ini,
Senyum ku telah kembali
Ku tak ingin ada yang mematahkannya lagi
Ketahuilah, bahwa saat ini ku sangat ingin berhati-hati
Karena, setelah luka tak ada lagi..
Senyum ku akan ku berikan pada seseorang yang berarti, Pasti.
Ku yakin seseorang itu akan datang menjemput ku nanti
Membawa ku, kepada bahagia yang ia ciptakan di dalam dirinya sendiri.
Yang ku mau,Aku ditemukan,Aku diceriakan,Aku dibahagiakan,Aku dicintai dengan kejujuran.
Doaku,
Aku dicintai oleh orang, yang tidak hanya berucap.
Tapi dicintai oleh orang yang ucapkan cintanya, dengan sikap.
Tuhan,
Tolong pilihkan aku seseorang yang tepat.
Yang mampu menghiasi langit hati-ku dengan hebat.
Yang menyayangiku, sangat.
Tapi Tuhan,
Jika engkau pun ragu memilihkan
Jika menurutmu, tak ada seorang pun yang mampu bahagiakan..
Jika menurutmu, tak ada hati yang bisa menjadi tempatku gantungkan harapan.
Izinkanlah aku, menikahi Hati-ku sendiri.
2 komentar:
panjaaang dan dalem.. :D
blognya keren, simple..
tulisannya banyak...
blogger beneran dah ini.. :D
Posting Komentar